Halaman

Tampilkan postingan dengan label nasehat salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat salaf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Februari 2015

Kata Mutiara Imam Ibnu Rajab

Biografi Imam Ibnu Rajab Al Hanbali -rahimahullah-

Al Imam Al Hafidz dan Al Allamah Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Al Hasan bin Muhammad bin Abu Al Barkat Mas'ud As Salami Al Baghdadi D Dimasyqi Al Hambali -rahimahullah- , yang lebih terkenal dengan nama Ibnu Rajab Al Hambali . Rajab adalah gelar kakeknya yang bernama Abdurrahmna. Semua sumber yang membahas biografi Ibnu Rajab sepakat bahwa beliau -rahimahullah- dilahirkan di Bahgdad pada tahun 736 H , delapan puluh tahun setelah jatuhnya ibukota Ilmu ketika itu, Baghdad ke tangan bangsa Mongol .

Al Imam Al Hafidz dan Al Allamah Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Al Hasan bin Muhammad bin Abu Al Barkat Mas'ud As Salami Al Baghdadi D Dimasyqi Al Hambali -rahimahullah- , yang lebih terkenal dengan nama Ibnu Rajab Al Hambali . Rajab adalah gelar kakeknya yang bernama Abdurrahmna. Semua sumber yang membahas biografi Ibnu Rajab sepakat bahwa beliau -rahimahullah- dilahirkan di Bahgdad pada tahun 736 H , delapan puluh tahun setelah jatuhnya ibukota Ilmu ketika itu, Baghdad ke tangan bangsa Mongol .

Ibnu Rajab bernasabkan kepada keluarga mulia dalam ilmu, keutamaan dan kebaikan. Kakaenya Abdurrahman bin Al Hasan memiliki majelis ilmu di Baghdad dimana hadits dibacakan kepdanya didalam rumah tersebut. Ibnu Rajab menghadiri majelis ilmu tersebut tidak hanya sekali ketika berumur tiga tahun, atau empat atau lima tahun [Ibnu rajab berkata di dalam kitabnya Dzailuth Thabaqat 2/213-214," Dibacakan kepada kakekku, Abu Ahmad Rajab bin Al Hasan tidak hanya sekali di Baghdad. Ketika itu aku hadir da;am majelis sekita umur tiga atau empat atau lima tahun]. Sedangkan Ayah Ibnu rajab adalah Syaikh dan Pakar hadits Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Al Hasan yang lahir di Baghdad th 706 H. Ibnu Rajab besar di kota Baghdad, mendengar hadits dari Syaikh-Syaikh Baghdad, dan membaca riwayat-riwayat. Kemudian Beliau pindah ke Damaskus pada tahun 744 H dan mendengar hadits disana, kemudian Hijaz dan Al Quds. Beliau duduk untuk belajar hadits di Damaskus dan mendapat manfaatnya. Ibnu Rajab memiliki semacam kamus khusus tentang Syaikh/ guru-gurunya yang dinukil darinya oleh Imam Ibnu Hajar di kitab Ad Durarul Kaminah.

Tahapan dalam Mencari Ilmu
Ayah Ibnu Rajab -rahimahullah- ingin sekali anaknya yakni Ibnu Rajab mendengar hadits dari para Syaikh terpercaya yang memiliki popularitas ilmiyah dalam periwayatan hadits di berbagai negeri Islam dan mengambil ijiazah dari mereka (ijazah adalah izin seorang syaikh kepada muridnya untuk meriwayatkan darinya hadits-hadits yang ia riwayatkan atau buku-bukunya, jadi ijazah mengandung penjelasan dari syaikh tersebut tentang izinnya kepada seorang murid untuk meriwayatkan hadits darinya -red). Agar dengan ijazah tersebut menjadi motivasi baginya dalam melanjutkan belajar dan bersabar diatasnya. Ibnu Rajab belajar hadits kepada ayahnya di Baghdad. Beliau juga mendengar hadits di Dsamaskus, Mesir dan lainnya negeri Islam. Sejumlah ulama yang pernah menjadi gurunya dan memberikan ijazah kepada beliau diantaranya adalah :
Syaikh-syaikh Ibnu Rajab dalam Ijazah
Zainab binti Ahmad bin Abdurraahim bin Al Maqdisyah yang wafat pada tahun 740 H ( Dzailuth Thabaqat 1/53,82,155)
Shafiyuddin ABul Fadhail Abdul Mukmin bin Abdul Haq bin Abdulloh Al Baghdadi yang wafat pada tahun 739 H. Shafiyyuddin memberikan ijazah kepada Ibnu Rajab untuk meriwayatkan darinya lebih dari sekali ( Dzailuth Thabaqat 2/430)
Abdurrahim bin Abdulloh Az Zuraiti (w 741 H). Ia guru di Al Mujahidiyah di Baghdad,Ibnu Rajab menghadiri pelajaran Abdurrahim ketika masih anak-anak (Dzailuth Thabaqot 2/436 )
Abu Ar Rabi' Ali bin Abdushshomad bin Ahmad Al Baghdadi Al Hambali (w 742 H)
Al Hafidz Al Qosim bin Muhammad Al Barzali -rahimahullah- (w 739 H)
Muhammad bin Ahmad bin Hassan At Tali Ad Dimasyqi -rahimahullah- (w 741 H), Syaikh Muhammad memberikan ijazah langsung dengan tulisannya sendiri kepada Ibnu Rajab.

Orang tua Ibnu Rajab kemudian membawanya ke Damskus pada tahun 744 H untuk melanjutkan studi di sana dan dikota selain Damaskus, dan belajar hadits dan lain-lain kepada para Syaikh terkemuka. Ketika itu Damskus adalah Slah satu markas Ilmu yang menjadi tujuan para pencari ilmu dari seluruh pelosok negeri untuk menuntut ilmu Syar'i., karena disana banyak sekali dibangun sekolah-sekolah oleh para Amir kaum Muslimin yang dikenal cinta Ilmu, menghormati ulama, menciptakan kondisi kondusif untuk belajar disana. Ibnu rajab diantaranya mendengar hadits dari :
Hakim Abul Abbas Ahmad bin Al Hassan bin Abdulloh -rahimahullah- (w 771 H)
Shihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman Al Hariri Al Maqdisi Ash Shalihi -rahimahullah- (w 758 H)
Imaddudin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Hadi bin Yusuf bin Muhammad bin Qudamah Al Maqdisi -rahimahullah- (w 754 H)
Taqiyuddin Abu Muhammad bin Muhammad bin Ibrohim bin Nashr bin Fahd -rahimahullah- (w 761 H)
Imam Izzudin Abu Ya'la Hamzah bin Musa Ahmad bin Barhan -rahimahullah- dikenal sebagai Ibnu Syaikh As Salamiyah (w 769 H)
Alauddin Ali bin Zainuddin Al Manja (w 750 H), beliau membacakan kepada Ibnu Rajab sejumlah hadits yang diriwayatkan Muslim di shahihnya dari Imam Ahmad
Umar bin Hasan bin Farid bin Umailah Al Maraghi Al Halabi Ad Dimasqi Al Mizzi -rahimahullah- (w 778 H)
Syamsuddin Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Salim Ad Dimasqi Al Anshari Al Ubadi -rahimahullah- yang dikenal sebagai Ibnu Al Khabbaz. Ayah Ibnu Rajab juga membacakan seluruh kandungan buku Al Musnad Imam Ahmad di hadapan Ibnu Al Khabbaz seperti yang dikatakan di kitab Al Minhaj Al Ahmadi 2/157. Di kitab Qowaidut Tahdits karya Al Qosimi hal 262 dikatakan bahwa Al Hafidz Abu Al Fadhl Al Iraqi membacakan Shahih Muslim kepada Muhammad bin Ismail Al Khabbaz di Damaskus di enam pertemuan beruntun. Pada pertemuan terakhir , Al Hafidz Abu Al Fahdl membacakan seperti isi kitab Shahih Muslim kepada Muhammad bin Islamil Al Khabaz dengan dihadiri Al Hafidz Zainuddin bin Rajab yang ketika itu memperbaiki naskahnya..
Syamsuddin Yusuf bin Abdurrahman bin Najm Al hambali -rahimahullah- (w 751 H)
Pakar Fiqh dan Faraidh, Jamaluddin Yusuf bin Abdulloh bin Al Afif Muahmmad An Nablusi (w 754). Ibnu Rajab membacakan Sunan Ibnu Majah kepada beliau .
Syamsuddin Abu Abdulloh Muahmmad bin Abu Bakr bin Ayyub Az Zar'I -rahimahullah- yang dikenal dengan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah (w 751 H), Ibnu Rajab selalu menghadiri majelis Ilmu Ibnul Qoyyim sebelum wafatnya lebih dari setahun dan mendengar darinya Syair An Nuniyah, kitab karangannya dan lainnya.
Syihabuddin AHmad bin Muhammad bin Umar Ash Shalihi Asy Syairazi Ad Dimasqi (w 771 H).
Ibnu An Nabasy, slah satu sahabat Sharifuddin Abduk Mukmin bin Abdul Haq. Ibnu Rajab membacakan hapalan tentang mukhtashor Al Kharaqi kepada Ibnu An nabasy, mendengar banyak sekali kitab karangan beliau yang dibacakan kepada Ibnu rajab, dan menemaninya hingga wafat.
Abdurrahman bin Abu Bakr bin Ayyud bin Sa'ad bin hariz bin Makki Abu Al Faraj Zainuddin Az Za'I Ad Dimasqi (w 769 H), Beliau adalah Suadara dari Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Ibnu Rajab berkata tentang gurunya," Aku mendengarkan kitab At Tawakul karya Ibnu Abid Dunya kepada Abdurrahman bin Abu Bakr."
Setelah itu, Ibnu Rajab pergi ke Mesir sebelum tahun 754 H, disana beliau belajar hadits kepada :
Nashiruddin Muhammad bin Ismail bin Abdul Aziz bin Isa Bin Abu Bakr Al Ayyubi -rahimahullah- (w 756 H), Ibnu rajab banyak sekali menimba ilmu darinya.
Shadruddin Abu Al Fath Muhammad bin Muhammad bin Ibrahim Al Maidumi (w 754 H)
Fathuddin Abu Al Haram Muhammad bin Muhammad Al Qalansi Al Hambali (w765 H)
Izzuddin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Sa'dulloh bin Jama'ah , hakim/Qodhi di mesir (w 767 H). Ibnu Rajab bertemu beliau di Mesir dan Makkah, Ibnu rajab berkata di kitabnya Dzailuth Thabaqot 1/85 ," Syaikh kami, Abu Umar Abdul Aziz adalah hakim mesir dan ayahnya juga hakim di Mesir. Beliau melarang manusia memanggilnya dengan nama hakim agung atau menuliskan namanya seperti itu, dan memerintahkan mereka menggantinya dengannama Hakim kaum muslimin."
Ibnu Rajab juga bersahabat dengan Al Hafidz Zainuddin Abu Al Fahdl Abdurrahim bin Al Husain Al Iraqi (w 806 H) dan mendengar banyak hal bersamanya.

Ibnu Rajab kembali berada di bagdad pada tahun 748 H dan belajar kepada :
Jamaluddin Abul Abbas Ahmad bin Ali Bin Muhammad bin Al Babashiri Al Bagdadi (w 750 H). Ibnu Rajab menghadiri pengajian jamaluddin lebih dari sekali dan mendengar pembacaan hadits olehnya. (Dzailuth Thabaqat 2/446]
Shafiyuddin Abu Abdulloh Al Husain bin Badran Al bashri Al Baghdadi (w 749 H). Ibnu rajab membacakan hadits kepada Shafiyuddin, menghadiri majlis ilmunya, dan mendengar pembacaannya terhadap shahih Al Bukhori kepada Syaikh Jamaluddin Musafir bin Ibrahim Al Khalidi (Dzailuth Thabaqat 2/444)
Abu Al Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sulaiman Al Hambali Al baghdadi (Dzailuth Thabaqat 1/301).
Tajuddin Abdulloh bin Abdul Mukmin bin Al Wajih Al Wasithi (w 740 H).
Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali bin Amr Al Qazuwini, seorang pakar hadits Iraq (w 750 H), Ibnu Rajab berkata dalam Dzailuth Thabaqat 2/444,"Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali Al Baghdadi Al Bazzar pergi ke Baghdad pada akhir usianya dan menetap beberapa lama disana, setelah itu ia menunaikan Haji tahun 749 H. Pada tahun itu juga aku menunaikan haji bersama ayahku, lalu kau membacakan tsulatsiyat Al Bukhori kepada Al Hullah Al Yazidiyah".
Ibnu Rajab sering bepergian ke Al Quds, Nablus, Mesir, Hijaz dan lainnya guna mencari hadits, ketika itu Damaskus adalah domisilinya. Ia pergi dari Damascus dan pulang kepadanya. Petualangannya mencari hadits berlangsung hingga tahun 763 H.
Di Al Quds, Ibnu Rajab mendengar hadits dari Al hafidz Shalahuddin Abu Sa'id Khalil bin Kaikalidi Al Alai (w 761 H). Ibnu Rajab berkata dalam Dzailuth Thabaqat 2/365 bahwa ia mendengarnya di baitul Maqdis berkata," Semoga Allah merahmati syaikhku Al Qodhi Taqiyuddin bin sulaiman yang aku dengar berkata,'Aku hanya sholat sendirian tidak berjamaah sebanyak dua kali dan sepertinya aku tidak pernah mengerjakannya'.
Di Makkah, Ibnu Rajab mendengar hadits dari Fakhruddin Utsman bin Yusuf bin Abu Bakr An Nuwairi Al Maliki (w 756 H) (ibnu Qodhi Syuhbah hal 488)
DI Biografi Syamsuddin Muhammad bin Syaikh Ahmad As Saqa di Dzailuth Thabaqat 2/446 disebutkan bahwa Ibnu Rajab menunaikan haji pada tahun 763 H dan di Makkah bertemu sejumlah ulama yang mulia.
Di Madinah, Ibnu rajab mendengar hadits dari Al hafidz dan sejarawan Madinah, Afufuddin Abu Muhammad Abdulloh bin Muhammad bin Muhammad Al Khazraji Al Ubadi Al Mathari (w 765 H) ( Dzailuth Thabaqat 2/370)
Dengan meninggalnya ayah Ibnu Rajab di tahun 774 H, Ibnu rajab berhenti dari mendengar hadits dari para Syaikh. kemudian sibuk dengan ilmu, membaca, menulis, mengarang, mengajar dan berfatwa hingga wafat.
Ibnu Rajab mengajar di Madarasah Al Hanabilah. Beliau menjadi terkenal di madrasah Al Kubra setelah wafatnya Al Qodhi Syamsuddin bin At Taqi tahun 788 H. Beliau mengajar di Madrasah tersebut hingga tahun 791 H.
Madrasah tersebut diwakafkan Syafarul Islam Abdul Wahhab bin Abdul Wahid bin Muhammad Al Anshari Asy Syairazi Ad Dimasyqi Al Hanbali yang merupakan faqih, orator dan syaikh sahabat-sahabat Imam Ahmad di Syam setelah wafatnya ayah Syafaratul Islam Abdul Wahhab dan pemimpin mereka tahun 536 H. Abdul Wahid ayah Syarafatul Islam adalah orang yang menyebarkan madzab Hanbali kepada penduduk Al Qodisiyah dan penduduk Damaskus. Sebelum itu, Madzab Hanbali tidak dikenal di daerah-daerah Al Quds dan Syam.
Semasa Hidup ayahnya, Ibnu Rajab menyelenggarakan halaqoh ( kajian) hari selalsa di Masjid Jami' Bani Umaiyyah. Halaqoh tersebut diperuntukkan bagi tokoh-tokoh madzab Imaam Ahmad setelah wafatnya Ibnu Qadhi Al Jabal pada tahun 771 H.
Imam Ibnu Rajab adalah orator ulung. Pidatonya menarik perhatian para pendengar, menggugah perasaan mereka, dan memahamkan agama Allah kepada mereka sesuia dengan ilmu bermanfaat yang diberikan Allah kepadanya, metode menarik, hati yang khusyu' dan niat yang benar.Berbagai kalngan berkumpul padanya dan hati manusia mencintainya.
Ibnu rajab menetap di Daar Al Hadits As Sukriyah di Al Qoshain ( sekang bernama Al Khaidhariyah) di pintu Al Jabiyah disebelah selatan Daar Al Qur'an Al Khaidhariyah yang masih ada sampai sekarang.Beliau menetap didalamnya hingga wafat.
Murid-murid Imam Ibnu Rajab
Al hafidz Ibnu rajab mengajarkan ilmunya. Oleh karena itu banyak sekali penuntut ilmu datang untuk belajar padanya, memanfaatkan semua ilmunya dan mendengarkan seluruh hadits yang diriwayatkan darinya. banyak sekali pencari ilmu yang setelah belajar padanya kemudian menjadi ulama terpercaya, meraih kedudukan tinggi dan meninggalkan risalah ilmiyah yang bermanfaat.
diantara para muridnya :
1. Hakim Agung Syihabuddin Abu Al Abbas Ahmad bin Abu Bakr bin Ahmad bin Ali Al Hanbali, yang lebih terkenal dengan nama Ibnu Ar Rassam ( w 844 H). Ibnu rajab memberikannya ijazah, dan beliau memliki buku berisi nasihat yang persis seperti buku syaikhnya yakni Ibnu rajab, yang berjudul Lathaiful ma'arif [lihat : Syadzaratul Dzzahab 7/252-253].
2. Muhibuddin Abu Al Fadhl Ahmad bin Nashrullah bin Ahmad bin Muhammad bin Umar Al Baghdadi Al Mishri, mufti Mesir ( w 844 H), Beliau mendengar hadits dari Ibnu rajab di damaskus, belajar fiqh padanya, an berinteraksi dengannya ( lihat : Adh Dhaul Lami 2/233-239 dan Syadzaratudz Dzahab 7/250].
3. Daud bin Sulaiman bin Abdullah Az Zain Al Mushili Ad Dimasqi Al hanbali [w 844 H]. Beliau mendengar syarah ibnu Rajab terhadap kitab Al Arbain An Nawawiyyah dan Lathaiful Ma'arif di majelis ilmu. [ lihat : Dhaul Lami' 3/212].
4. Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Yusuf Ad Dimasqi Al makki Asy Syafii ( w 853 H]. Ia mendengar hadits dari Ibnu Rajab di damascus.
5. Imam, orang alim, pakar tafsir, pakar hadits dan faqih, Zainuddin Abdurrahman bin Sulaiman bin Abu Al Karam Ad Dimasyqi Ash Shalihi. terkenal dengan nama Abu Syi'r [w 844 H]. Ia membacakan permulaan buku Al Mughni karya Imam Ibnu Qudamah kepada Ibnu rajab { Dhaul lami 4/82, Syadzaratudz DZahab 7/253].
6. Abu Dzar Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Muhamamd Al Mishri Al Hanbali, terkenal dengan nama Az Zarkasyi [w 846 H].. Ia pergi ke damaskus sebelum tahun 803 H dan belajar Fiqh pada Ibnu Rajab [ Lihat Inbaul Gharm 9/194 dan Dhaul Lami' 4/136-137].
7. Al Imam, Orang alim, pakar ushul fiqh, Alauddin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abbas Al Ba'li Ad Dimasyqi Al Hanbali , terkenal dengan nama Ibnu Lahham [w 803 H]. Ia menjadi murid Ibnu Rajab dan beajar fiqh padanya. ibnu rajab memberikan izin kepadanya untuk berfatwa dan berceramah di masjid jami' Al Umawi' di halaqoh-nya sepeninggalnya [ lihat : inbaul Gharm 4/301-302, Dhaul Lami' 5/320-321, Syadzaratudz Dzahab 7/31 dan Al Maqshid Al Arsyad 2/237 ].
8. Alauddin Ali bin Muhammad bin Ali Ath Thursusi Al Mizi [w 850]. Ia hadir di majelis ilmu Ibnu Rajab dan mendengarnya berkata," Az Zain Al iraqi mengirim surat kepadaku memintaku mensyarah At Tirmidzi." [lihat ; Dhaul Lami' 5/328].
9. Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al ja'fari An nablusi Al Hanbali , lahir pada 752 H. As Sakhawi mewakafkan dua bukunya kepadanya, salah satunya berjudul rasyful Madam. As Sakhawi menukilkannya dari Ibnu rajab. Jadi Ali bin Muhammad seperti belajar fiqh dari Ibnu rajab [ lihat Dhaul Lami' 5/279].
10. Syaikh, Al Imam, orang alim, hakim, Alaudin Ali bin Muhammad bin Abu Bakr As Sulami Al Hamawi Al Hanbali [w 828 H]. ia belajar fiqh pada Ibnu rajab di Damaskus [ lihat : Dhaul Lami' 6/34 dan Al Maqshid Al Arsyad 2/264-266].
11. Abu hafash Umar bin Muhammad bin Ali bin Abu Bakr bin Muhammad As Siraj Al halabi Ad Dimasyqi Asy Syafii, {w 841 H]. ia mendengarkan hadist dari Ibnu Rajab di damskus [Dhaul Lami' 6/120].
12. Hakim Makkah Syamsyuddin Muhammad bin Ahmad bin Sa'id Al Maqdisi An nablusi Ad Dimasyqi Al Halbi [w 864 H]. Beliau emndengar hadiots dari Ibnu rajab di damaskus {lihat ; Dhaul Lami' 6/309].
13. Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad Al Anshari Al halabi Ad Dimasyqi Ash Shalihi Al Hanbali, Ia muadzin di Masjid Jami' Al Umawi, terkenal dengan nama Ibnu Asy Syahham [w 864 H]. Ia menghadiri kajian Ibnu rajab di Damaskus { lihat : Dhaul Lami 2/41 dan Syadzaratudz Dzahab 7/303 ].
14. Qadhi Izzuddin Muhammad bin bahauddin Ali Al Maqdisi Al Hanbali. ia khatib Masjid Jami' Al Mudhaffari Di Shalihiyah, Damaskus [lihat ; Syadzaratudz Dzahab 7/147 ].
15. Qadhi Himsh, Syamsyuddin Muhammad bin Khalid bin Musa Al himshi yang terkenal dengan nama Ibnu Zahrah. beliau membacakan hadits pada Ibnu Rajab di damaskus [lihat : Syadzaratudz Dzahab 7/195 ].
16. Syamsuddin Abu ubaidillah Muhammad bin Khalil bin Thughan Ad Dimasyqi Al hariri Al Hanbali [ w 803 H]. Beliau mengikuti kajian ilmu di majelis Ibnu Rajab di damaskus [ lihat Syadzaratudz DZahab 7/35].
17. Hakim Agung Damaskus, Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad bin ubadah As Sa'di Al Anshar [ w 820 H], beliau belajar di majelis Ibnu Rajab di Damaskus
18. Muhibuddin Abu fadhl bin Syaikh Nashrullah yang lahir pada tahun 765 H di baghdad, dan belajar ilmu di majelis Ibnu Rajab di damaskus.
19. Al Imam, orator ulung dan hakim Agung Shadruddin Abu bakr bin ibrahim bin Muhammad bin Muflih (w 820 H) ( lihat : Ad Daris fi Tarikhil Madaaris 2/51).
20. Dan masih banyak lagi murid Beliau.

Ibnu Hijji berkata seperti dinukil Al Hafidz di kitab Ad Durarul Kaminah 3/176,' Sebagian besar sahabat-sahabat kami pengikut madzab Hanbali adalah murid Imam Ibnu Rajab."

Pujian Para Ulama kepada Imam Ibnu Rajab
1. Al Qadhi Alauddin bin Lahham berkata seperti dinukil oleh Yusuf bin Abdul Hadi," ibnu rajab adalah Syaikh kami, imam, orang alim, ulama paling istimewa, hafidz hadits, Syaikhul Islam, penerang bagi yang gelap dan penjelas segala hal yang tidak jelas ( berkaitan dengan keluasan ilmu beliau -red)" { lihat Al jauhar Al Mundzidh hal 48]. Al Qodhi juga berkata," Ibnu Rajab dalah Syaikh kami, Imam, orang alim, hafidz hadits, sisa generasi Salaf yang mulia, orang istimwa pada zamannya dan Syaikhul Islam"
2. Al Hafidz Syam dan sejarawan Islam, Syihabuddin Ahmad bin Hijji berkata seperti dinukil darinya oleh Al hafidz Ibnu Hajar," Ibnu Rajab hebat dalam banyak disiplin ilmu dan menjadi orang yang paling ahli tentang cacat hadits dan jalur-jalurnya. Sebagian besar sahabat-sahabt kami pengikut madzab hanbali adalah murid-muridnya di damaskus." [lihat : ibnaul Gharm 3/176].
3. Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyqi berkata," Ibnu Rajab adalah syaikhul Islam, Imam, ulama hebat, orng zuhud, orang panutan, penuh berkah, Hafidz haits, narasumber, orang terpercayahujjah, orator hebat, pakar hadits, salah satu seorang imam yang zuhud dan ulama ahli ibadah." [lihat : Ar radd Wafir hal 176].
4. Ibnu Qadhi Syuhbah berkata,"Ibnu Rajab adalah Syaikh, pakar hadits, Al hafidz hadits, orang zuhud, wara', Syaikh para pengikut Madzab Hanbali, oang termulia dari mereka dan pakar hadits yang hebat." [lihat: Ibnu Qadhiy Syuhbabh 1/3/488].
5. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata,"Ibnu Rajab adalah Syaikh, pakar hadits, hafidz hadits, nama-nama perawi, jalur-jalur hadits dan kana-maknanya. Ia rajin veribadah dan tahajjud." [lihat : Ad Durarul Kaminah 2/322 dan inbaul Gharm 3/176].
6. Taqiyuddin Muhammad bin Fahd berkata," Ibnu Rajab adalah Imam, Hafidz hadits, hujjah, faqih, narasumber, salah satu ulama yang zuhud, imam yang rajin beribadah, pakar hadits hebat, dan penasehat kaum muslimin." [lihat : Lahhul Alhadz hal 180].
7. Ibnu Muflih berkata,"Ibnu Rajab adalah Syaikh, ulama, hafidz hadits, orng zuhud, dan syaikh para pengkut madzab Hanbali." [lihat : Al Maqshid Al Arsyad 2/81].
8. Ysyuf bin Abdul Hadi berkata," Ibnu Rajab adalah Syaikh, imam, orang langka, panutan para hafidz hadits, penyatu perbedaan dan keutamaan, faqih, orang zuhud, orang hebat, pakar ushul fiqh, dan hadits.", Setelah menyebutkan sebagian besar buku-buku karya Ibnu Rajab, Yusuf bin Abdul Hadi berkata," Dan buku-buku lainnya yang bermanfaat yang tidak ada tandingannya,Ibnu rajab mempunyai analisa dalam banyak masalah berasal dari nash-nash Imam Ahmad dan sahabat-sahabatnya. Ia juga mempunyai banyak sekali masalah-masalah asing dan hal-hal bagus yang tidak mampu dihitung manusia." [ lihat ; Al Jauhar Al Mundzidh hal 46].
9. Imam As Suyuthi berkata," Ibnu Rajab adalah Imam, hafidz hadits, orang zuhud, dan syaikh para pengikut madzab Hanbali." {lihat : Dzailu Tadzkiratul Huffadz hal 367].
10. An Nu'ami berkata,"Ibnu Rajab adalah Syaikh, ulama, hadits, orang zuhud, dan syaikh para pengikut Madzab Hanbali." [lihat : Ad Daris fi tarikhil Madaaris 2/76].
11. Al Alimi berkata," ibnu rajab adalah salah satu Imam, hafidz hadits terkemuka, ulama yang zuhud dan pilihan." [Al Minhaj Al Ahmadi 2/174/1].
12. Ibnu Al Imad berkata," ibnu Rajab adalah Syaikh, Imam, orang alim,ulama,orang zuhud, orang panutan, orang berkah, hafidz hadits, narasumber, orang terpercaya, hujjah." [lihat : Syadzaratudz DZahab 6/339].

Wafatmya Ibnu Rajab
Al hafidz Ibnu Rajab wafat pada 795 H di Damaskus, dimakamkan di kuburan Al bab Ash Shaghir di samping kuburan Syaikh Abul faraj Abdul Wahid bin Muhammad Asy Syairazi Al Maqdisi Ad Dimasyqi yang wafat pada bulan Dzulhijjah 486 H.


Sumber : Panduan Ilmu dan Hikmah, Terjemah Jamiul Uluw Wal Hikmah, Penerbit darul Falah.
                umiromadliyanidotblogspotdotcom

Tambahan

Untaian Hikmah Perkataan Ibnu Rajab

العجب ممن عرف ربه ثم عصاه ، وعرف الشيطان ثم أطاعه .
لطائف المعارف [٦١]"
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Sangat aneh orang yg mengenal Rabbnya namun dia bermaksiat kepadaNya. Dan dia juga mengenal setan namun dia menaatinya."
(Latha'if al Ma'arif: 61)

Jumat, 30 Januari 2015

Kisah Hidup Imam Al-Hasan Al-Bashri

Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di rumahnya.
Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.
Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri RasulullahShallallahu Alaihi Wassalam.
Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.
Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya. Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.
Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kotaini.Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.
Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.
Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.
Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj: “Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …”
Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”
Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .
Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.
Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.
Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”
Mutiara kata Imam Hasan Al-Bashri
Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”
Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hurairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Dari Imran bin Khalid bahwa al-Hasan radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mukmin yang sesungguhnya adalah yang selalu merasa sedih baik di kala pagi maupun sore, karena dia akan selalu di antara dua rasa takut, antara dosa yang sebelumya telah ia perbuat sedang ia tidak atahu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan perbuat kepadanya dan ajal yang akan menjemputnya yang juga ia tidak tahu apa yang akan menimpanya dari kebinasaan.”
Dari Hazm bin Abi Hazm ia mengatakan, “Aku pernah mendengar al-Hasan berkata, ‘Sungguh jelek dua sahabat ini yaitu dinar dan dirham, karena keduanya tidak akan memberi manfaat kepadamu sampai keduanya berpisah darimu’.”
Beliau juga mengatakan, “Tidaklah seorang yang memuliakan dirham kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.”

Dari Zuraik bin Abi Zuraik ia berkata bahwa al-Hasan pernah mengatakan, “Sesungguhnya fitnah apabila datang maka akan diketahui oleh setiap yang alim dan apabila ia lenyap baru diketahui oleh setiap yang jahil.”
Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling sholeh di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” ~( Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187 )~

Wafatnya Beliau
Dari Abdul Wahid bin Maimun maulah Urwah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma berkata, “Datang seorang kepada Ibnu Sirin seraya mengatakan, ‘Aku bermimpi melihat seekor burung mengambil kerikilnya al-Hasan di masjid.’ Lalu Ibnu Sirin berkata, ‘Seandainya yang kamu ucapkan benar maka berarti al-Hasan akan meninggal dunia.’ Tidak berselang lama lalu meninggallah al-Hasan.”
Dari Hisyam bin Hassan, “Kami sedang duduk-duduk bersama Muhammad bin Sirin pada sore hari di hari Kamis. Tiba-tiba datang seorang laki-laki selepas shalat Asar seraya mengabarkan bahwa al-Hasan telah meninggal dunia, maka Muhammad bin Sirin mendoakannya dan sepontan raut mukanya berubah kemudian diam seribu bahasa. Beliau tidak berbicara sampai tenggelam matahari.”
Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Penduduk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu Masjid jami' di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati al-Hasan al-Bashri dengan rahmat yang luas dan memasukkan kita semuanya ke surga-Nya yang tinggi yang buah-buahnya begitu dekat untuk diraih. Amin.

Sumber : ahlulhadistdotwordpressdotcom dan lain-lain.

Featured Post

Sholat Qashar Ketika Safar

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Kitab Shalat بَابُ صَلاَةِ المسَافِرِ وَالمريضِ Bab: Shalat Musafir dan Orang yang Sakit   ...